Sunday, May 25, 2014

Sekilas Tanaman Gobo



Berawal dari pengalaman Widyaiswara Pertanian yang sedang melakukan kunjungan lapang ke Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Agrofarm di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat awal Mei 2014. Ketika itu para Widyaiswara yang sebahagian sudah menginjak usia 50-an naik bis dari Lembang menuju lokasi P4S. Diprediksi perjalanan hanya memakan waktu 2 jam tetapi karena macet yang luar biasa, berangkat pukul 06.30 baru tiba di tempat pukul 10.30. Meninjau usahatani pak Santoso ketua P4S Agrofarm, para Widyaiswara disambut oleh teriknya panas matahari tanpa pohon yang bisa tempat berlindung.

Para Widyaiswara sangat antusias mendengar penjelasan dari pak Santoso tentang bagaimana ia memulai usahataninya hingga semaju sekarang. Pak Santoso yang PHK dari tempat kerjanya di Jakarta pada masa krisis ekonomi tahun 1998 terpaksa kembali ke desa untuk memulai usahatani yang sama sekali baru baginya. Tapi karena tidak ada lagi sumber penghidupan, dengan berat hati ia merelakan kulitnya diterpa panas matahari sejak pagi hingga petang, bersahabat dengan rumput dan ilalang. Hanya satu tekadnya menjadi petani sukses menghidupi keluarganya dan sekaligus berbagi dengan petani lain di sekitarnya.

Tanpa terasa satu jam pak Santoso menjelaskan komoditas yang ditanam di hamparan kebunnya, para Widyaiswara tetap antusias. Kenapa? Karena mereka melihat dan mendapat penjelasan tentang satu jenis tanaman yang baru pertama kali mereka kenal. Tanaman itu dinamai “Gobo”. Gobo sejenis tanaman umbi dengan daun agak lebar sedangkan umbinya panjang mulai dari 30 cm sampai dengan 1 meter.

Sewaktu kami bertanya kepada salah seorang pelayan di salah satu supermarket di Jakarta Selatan, ia tidak mengenal nama Gobo, baru setelah kami sampaikan ciri-cirinya, ia bias menunjukkan dan ternyata nama di supermarket adalah Burdock.
Kira-kira 2 jam mengamati dan berdiskusi dengan pak Santoso, para Widyaiswara meninggalkan P4S dan kembali ke Lembang.. Dengan keringat di badan, dan kelelahan mereka sore itu harus kembali ke Lembang untuk melanjutkan agenda Diklat Kewirausahaan Pertanian. Diharapkan jalan lancer malah lebih parah dari sewaktu berangkat. Berangkat pukul 16.00 sore sampai ke Lembang pukul 22.30 malam.

Biasanya, kalau sudah capek begitu, akan terlambat datang ke kelas dan mengeluh kecapaian. Tetapi pagi itu, mereka datang tepat waktu dengan kondisi segar, ceria, dan bersemangat. Selidik punya selidik, akhirnya diketahui rahasianya bahwa kemarin sore mereka mencicipi umbi (ginseng) Gobo. Itulah pengakuan Widyaiswara yang merasakannya. Pembicaraan di sela-sela pelajaran tidak berhenti tentang Gobo. Bukan hanya khasiatnya yang luar biasa tetapi juga keuntungan usahatani yang diperoleh dari menanam Gobo itu juga luar biasa. Menurut hitung-hitungan Pak Santoso, keuntungan bisa tiga kali lipat dari modal untuk satu musim tanam (kira-kira 6 bulan). Sedangkan potensi pasar masih sangat besar baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.

Kami kebetulan sebagai panitian Diklat Kewirausahaan, menjadi penasaran dengan Gobo, dan akhirnya menuliskannya dalam Blog ini. Bagi yang berusaha tanaman Gobo atau ingin mengkonsumsinya silahkan hubungi kami di email: halimshtang@yahoo.com
Be creative, innovative, discipline, hard work, and success.



No comments:

Post a Comment