Berawal dari pengalaman Widyaiswara Pertanian
yang sedang melakukan kunjungan lapang ke Pusat Pelatihan Pertanian dan
Perdesaan Swadaya (P4S) Agrofarm di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat awal Mei
2014. Ketika itu para Widyaiswara yang sebahagian sudah menginjak usia 50-an
naik bis dari Lembang menuju lokasi P4S. Diprediksi perjalanan hanya memakan
waktu 2 jam tetapi karena macet yang luar biasa, berangkat pukul 06.30 baru
tiba di tempat pukul 10.30. Meninjau usahatani pak Santoso ketua P4S Agrofarm,
para Widyaiswara disambut oleh teriknya panas matahari tanpa pohon yang bisa
tempat berlindung.
Para Widyaiswara sangat antusias mendengar
penjelasan dari pak Santoso tentang bagaimana ia memulai usahataninya hingga
semaju sekarang. Pak Santoso yang PHK dari tempat kerjanya di Jakarta pada masa
krisis ekonomi tahun 1998 terpaksa kembali ke desa untuk memulai usahatani yang
sama sekali baru baginya. Tapi karena tidak ada lagi sumber penghidupan, dengan
berat hati ia merelakan kulitnya diterpa panas matahari sejak pagi hingga
petang, bersahabat dengan rumput dan ilalang. Hanya satu tekadnya menjadi
petani sukses menghidupi keluarganya dan sekaligus berbagi dengan petani lain
di sekitarnya.
Tanpa terasa satu jam pak Santoso
menjelaskan komoditas yang ditanam di hamparan kebunnya, para Widyaiswara tetap
antusias. Kenapa? Karena mereka melihat dan mendapat penjelasan tentang satu
jenis tanaman yang baru pertama kali mereka kenal. Tanaman itu dinamai “Gobo”. Gobo
sejenis tanaman umbi dengan daun agak lebar sedangkan umbinya panjang mulai
dari 30 cm sampai dengan 1 meter.
Sewaktu kami bertanya kepada salah seorang
pelayan di salah satu supermarket di Jakarta Selatan, ia tidak mengenal nama
Gobo, baru setelah kami sampaikan ciri-cirinya, ia bias menunjukkan dan
ternyata nama di supermarket adalah Burdock.
Kira-kira 2 jam mengamati dan berdiskusi dengan
pak Santoso, para Widyaiswara meninggalkan P4S dan kembali ke Lembang.. Dengan
keringat di badan, dan kelelahan mereka sore itu harus kembali ke Lembang untuk
melanjutkan agenda Diklat Kewirausahaan Pertanian. Diharapkan jalan lancer
malah lebih parah dari sewaktu berangkat. Berangkat pukul 16.00 sore sampai ke
Lembang pukul 22.30 malam.
Biasanya, kalau sudah capek begitu, akan
terlambat datang ke kelas dan mengeluh kecapaian. Tetapi pagi itu, mereka
datang tepat waktu dengan kondisi segar, ceria, dan bersemangat. Selidik punya
selidik, akhirnya diketahui rahasianya bahwa kemarin sore mereka mencicipi umbi
(ginseng) Gobo. Itulah pengakuan Widyaiswara yang merasakannya. Pembicaraan di
sela-sela pelajaran tidak berhenti tentang Gobo. Bukan hanya khasiatnya yang
luar biasa tetapi juga keuntungan usahatani yang diperoleh dari menanam Gobo
itu juga luar biasa. Menurut hitung-hitungan Pak Santoso, keuntungan bisa tiga
kali lipat dari modal untuk satu musim tanam (kira-kira 6 bulan). Sedangkan
potensi pasar masih sangat besar baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.
Kami kebetulan sebagai panitian Diklat
Kewirausahaan, menjadi penasaran dengan Gobo, dan akhirnya menuliskannya dalam
Blog ini. Bagi yang berusaha tanaman Gobo atau ingin mengkonsumsinya silahkan
hubungi kami di email: halimshtang@yahoo.com
Be creative, innovative, discipline, hard work, and
success.